Dipublikasikan di Selasa, 06 Januari 2026.
Ada satu hal yang baru benar-benar kupahami di awal 2026: ternyata aku tidak “aneh”, tidak “lemah”, dan tidak “berlebihan”. Aku hanya hidup terlalu lama dalam kondisi yang membuat sistem sarafku terus siaga.
Dan sayangnya, itu tidak pernah benar-benar terlihat dari luar.
Ketika Aku Mengira Semua Ini Hanya “Fase”
Di jenjang SMP, sekitar tahun 2022, aku pernah menggantungkan diriku pada istilah yang sebenarnya tidak benar-benar menjelaskan kondisiku: sad boy.
Aku menggunakannya bukan untuk gaya-gayaan, tapi karena:
• aku tidak punya bahasa yang lebih tepat
• aku merasa sedih, kosong, mudah tersinggung,
• tapi tidak tahu kenapa.
Label itu terasa “cukup” saat itu. Bukan karena benar, tapi karena tidak ada alternatif.
Tidak ada guru yang benar-benar bertanya mengapa.
Tidak ada ruang aman untuk menjelaskan bahwa ada sesuatu yang lebih dalam.
Dari “Aku Cuma Overthinking” ke “Mungkin Ini ADHD?”
Waktu berjalan. Masuk ke masa SMK, kondisiku tidak membaik—hanya berubah bentuk.
Aku:
• sulit fokus
• cepat lelah secara mental
• sangat sensitif terhadap candaan
• sering menyalahkan diri sendiri atas hal-hal kecil
Dan seperti banyak orang lain, aku juga pernah mendengar kalimat: “Kamu cuma overthinking.”
Padahal, belakangan aku sadar, trauma kompleks memang sering disalahartikan sebagai overthinking.
Pada November 2024, aku menemukan istilah ADHD. Untuk pertama kalinya, ada penjelasan yang agak masuk akal.
Aku akhirnya pergi ke psikolog di akhir Mei 2025. Dan ya—ADHD memang dikonfirmasi.
Dengan penanganan yang tepat:
• gejala mulai mereda perlahan
• pada September 2025 aku merasa jauh lebih stabil
• masih ada residual anxiety hingga Desember 2025
Masuk tahun 2026, aku bisa bilang dengan jujur: aku pulih sepenuhnya.
Ternyata Bukan Hanya ADHD
ADHD memang ada. Tapi itu bukan seluruh ceritanya.
Banyak reaksiku—freeze, fawn, flight, fight, termasuk rasa bersalah berlebihan, sensitif terhadap candaan—ternyata lebih cocok dijelaskan sebagai trauma kompleks (C-PTSD).
Dan inilah masalah besarnya: trauma kompleks sering tidak terlihat, bahkan oleh penyandangnya sendiri.
Aku mengira:
• aku kurang disiplin
• aku terlalu sensitif
• aku “bermasalah”
Padahal sistem sarafku terus bekerja tanpa henti, seperti CPU komputer tanpa pendingin:
• harus menjalankan sistem operasi seringan mungkin
• tetap mudah panas
• sering hang
• sering butuh restart
Ketika ada masukan besar—misalnya candaan, tekanan sosial, atau kesalahan kecil—sistemnya langsung overload.
Dan dari luar?
Orang cuma melihat: “kok lebay sih?”
Empat Respons Bertahan Hidup yang Tidak Pernah Dijelaskan di Sekolah
Aku baru tahu belakangan bahwa ada empat respons bertahan hidup utama:
Freeze: tubuh seperti mati rasa, kosong
Fight: meledak, menangis, marah tiba-tiba
Flight: menghindar, menarik diri
Fawn: selalu bilang “iya”, sulit menolak
Aku sering berada di freeze dan fawn.
Dan di sekolah, itu sering disalahartikan sebagai:
• tidak punya pendirian
• kurang percaya diri
• atau… lucu untuk ditertawakan.
Ketika Sekolah Unggul Belum Tentu Aman
Sekolahku adalah SMK Pusat Keunggulan. Secara sistem, unggul.
Tapi keunggulan itu sering lupa satu hal penting: tidak semua siswa datang dalam kondisi netral.
Aku pernah melihat bagaimana:
• siswa dengan ekspresi berbeda dijadikan cerita
• figur sekolah disebut “legenda” tanpa mempertimbangkan kemungkinan luka di baliknya
• perilaku trauma dijadikan bahan candaan, bahkan hiburan
Padahal, satu momen ditertawakan di ruang publik bisa membekas bertahun-tahun bagi siswa dengan trauma kompleks.
Tentang Rasa Iri yang Tidak Pernah Dibicarakan
Ada satu hal lagi yang jarang dibahas: rasa iri.
Bukan iri yang toksik, tapi iri karena: hidup orang lain terasa mulus, figur OSIS tampak “berjalan lurus”, sementara hidup sendiri terasa berat sejak awal.
Itu bukan malas.
Itu lelah karena harus bertahan terlalu lama.
Harapanku untuk Guru BK
Aku tidak menulis ini untuk menyalahkan. Aku menulis ini karena aku sudah pulih, dan ingin orang lain tidak perlu selama itu untuk memahami dirinya.
Harapanku sederhana:
jangan langsung menyebut “overthinking”
jangan meromantisasi siswa “unik”
jangan menjadikan perbedaan sebagai hiburan
dan jika menemukan siswa yang “mirip denganku dulu“, rangkul sejak awal, tanpa syarat. Karena trauma kompleks tidak terlihat.
Dan sering kali, yang terlihat “aneh” hanyalah orang yang sedang bertahan hidup sebaik yang ia bisa.
Penutup
Aku tidak rusak.
Aku tidak berlebihan.
Aku hanya tidak pernah diberi bahasa yang tepat sejak awal.
Dan semoga, lewat cerita ini, sekolah—terutama Guru BK—bisa menjadi tempat di mana keunggulan juga berarti aman secara psikologis.
Karena itu, bagi sebagian siswa, adalah bentuk keunggulan yang paling nyata.
1 komentar:
Tenang kak, masih ada harapan akan bahagia kakaknya. Semoga kita bisa kontek lebih lanjut ya, jangan lupain aku ^_^ hihi
Posting Komentar